Hai.. selamat datang di blog Saya. Ini hanya tempat saya cerita, berolahraga jari, sarana berlatih menulis, dan menyebarkan energi yang didapatkan dari setiap 'Matahari' yang saya temui setiap hari. Terima kasih sudah mampir ya.. =) Salam, Jefrin Goeltome
Get Gifs at CodemySpace.com
Photobucket

Musik Galery

Belajar Kerendahan Hati

0 komentar
TwitThis
Teman, marilah kita merenung sejenak tentang kerendahan hati. Apakah kita sudah benar-benar bersikap rendah hati dalam hidup kita? Apakah kita pernah merasa lebih baik dan lebih mulia daripada yang lain?
Sikap rendah hati sesungguhnya berkaitan erat dengan bagaimana menghidari sikap sombong. Perasaan “paling hebat”, “paling benar”, “paling bisa”, ataupun “paling mulia” harus dihilangkan untuk memperoleh kerendahan hati, karena perasaan-perasaan negatif tersebut akan menghalangi manusia untuk memperoleh kemuliaan yang sesungguhnya.
Namun bukan berarti dengan menghilangkan perasaan tersebut kita mengurangi penghargaan terhadap diri kita. Cukupkanlah penghargaan terhadap diri kita, sehingga kita tidak perlu mencari penghargaan dari luar dengan membicarakan kelebihan kita pada orang lain. Dengan begitu kita akan memperoleh penghargaan sejati, bukan penghargaan semu yang dilebih-lebihkan.
Pernahkah kita melihat seseorang yang sering membicarakan kelebihannya dihadapan orang lain? Atau mungkin diri kita sendiri yang masih sering melakukannya? Lalu, apakah nyaman kita berhadapan dengan seseorang yang seperti itu? Hal-hal kecil inilah yang harus kita koreksi dalam diri kita. Meskipun kita memang mampu dalam suatu bidang, bukan berarti kita boleh merasa lebih pandai atau lebih mulia dari yang lain.
“Siapa yang merasa paling pintar diantara yang lain, sesungguhnya saat itulah ia menjadi yang paling bodoh”. Saya mulai menyadari hal ini ketika menjumpai seorang teman yang dari luar terlihat biasa bahkan sangat bersahaja. Ketika berbicara tidak pernah berlebihan apalagi menonjolkan kelebihan yang dimilikinya. Namun, ternyata kemampuannya sungguh luar biasa, karya-karyanya disukai banyak orang, dan prestasinya juga cukup membanggakan.
Peribahasa Jawa kita pernah mendengar peribahasa “ngluruk tanpa bala (menyerang tanpa pasukan), menang tanpa ngasorake (menang tanpa harus menindas), lan sugih tanpa bondo (kaya tanpa harta)”.
Marilah kita merenungkan peribahasa tersebut secara mendalam. Saya menyadari bahwa sikap rendah hati ini masih belum sepenuhnya melekat dalam diri saya. Maka, marilah kita bersama-sama mengoreksi diri untuk menjadi lebih baik. Hilangkan perasaan negatif dalam hati walaupun secuil dan jadilah pribadi yang lebih baik detik ini juga.

mellygoeslow

0 komentar
TwitThis
<img style="visibility:hidden;width:0px;height:0px;" border=0 width=0 height=0 src="http://c.gigcount.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bT*xJmx*PTEzMjM3NjE1OTcyNTQmcHQ9MTMyMzc2MTcxOTEyOSZwPTEzNzkyMSZkPSZnPTEmbz1iODg5OWUwYWY4ZTk*NTUzOTBj/M2E*YmJhYmM5MTQ4YyZvZj*w.gif" />  <center><embed src="http://static.4shared.com/flash/player.swf?file=http://dc254.4shared.com/img/318385628/ab778d73/dlink__2Fdownload_2FpPBBFoxJ_3Ftsid_3D20111213-073234-705e4ac1/preview.mp3&image=http://www.musicdumper.com/lg.jpg&repeat=always&autostart=true&frontcolor=cccccc&lightcolor=428cdb&backcolor=111111" width="300" height="68" allowscriptaccess="always"></embed>
  <br /><small><a href="http://www.musicdumper.com/" target="_blank">Melly Goeslaw - Bunda</a></small></center> 




<object width="380" height="120"><param name="wmode" value="transparent" /><param name="movie" value="http://u.h.6.1.aimini.net/player/mp3/?file=http://u.h.6.1.aimini.net/play/?fid=16hUM9brS4uNFRNXgMBp&amp;acpl=UrZvZIrw6OIe464gozBLGihFf4OV3r8LHKtX9puiGGh96sukw3JQIK6j0JyQ5Ffj&amp;auto=yes&amp;repeat=yes" /><embed src="http://u.h.6.1.aimini.net/player/mp3/?file=http://u.h.6.1.aimini.net/play/?fid=16hUM9brS4uNFRNXgMBp&acpl=UrZvZIrw6OIe464gozBLGihFf4OV3r8LHKtX9puiGGh96sukw3JQIK6j0JyQ5Ffj&auto=yes&repeat=yes" width="380" height="120" type="application/x-shockwave-flash"></embed></object>

Katak Tuli

0 komentar
TwitThis
Suatu saat ada perlombaan panjat tebing yang diikuti oleh para katak dari segala jenisnya.
Ketika start semua penonton bersorak mendukung mereka. Tapi di tengah pertandingan, beberapa katak menyerah karena medan perlombaan sangat berat.

Hanya ada lima katak terus berjuang mencapai garis akhir. Saat medan bertambah sulit para penonton yang tadinya mendukung para katak itu mulai tidak yakin akan kemampuan mereka.

Mereka berteriak agar para katak menyerah saja. Bahkan sebagian memberitahu para katak bahwa medan yang berat itu berbahaya dan bisa membunuh mereka. Akhirnya hanya seekor katak yang bertahan dan memenangkan perlombaan.

Setelah diteliti mengapa banyak yang gagal, hasilnya menyebutkan mereka mendengarkan perkataan penonton menjadi takut dan berhenti.

Dan bagaimana dengan katak yang bisa terus dan akhirnya memenangkan pertandingan?

Ternyata ia adalah seekor katak yang tuli, ia tidak mendengar apapun yang penonton katakan. Dalam kasus ini, tuli itu anugerah.

Saat kesulitan hidup meningkat, daripada percaya Tuhan kita seringkali mendengarkan suara negatif orang-orang di sekitar kita dan mempercayainya. Jadi jika anda ingin mencapai tujuan hidupmu, jangan memberi tempat kepada perkataan negatif, intimidasi dari orang lain. Yakinlah akan tujuanmu, tempatkan perkataan Tuhan sebagai panduan, dan percayalah akan jawaban doa-doamu!

Kisah Pengaduk Besi dan Garam

0 komentar
TwitThis
Seorang pemulung berjalan-jalan ditengah tumpukan sampah. Di tengah-tengah sampah tersebut ia menemukan sebuah pengaduk besi yang sudah tua dan berkarat. Sang pemulung kemudian memungut pengaduk besi tersebut dan kemudian meletakkannya di dalam tasnya. Kemudian ia pun berjalan lagi dan di dekat tempat ia menemukan pengaduk besi tadi, ia menemukan sebongkah garam dapur yang sudah sangat kotor. Garam tersebut kemudian ia pungut dan ia masukkan ke dalam tasnya juga. Di dalam tas si pemulung tersebut, garam dan pengaduk besi menjadi akrab. Mereka saling mengenal dan mengasihi satu sama lain, saling berbagi rasa, dan saling sharing tentang perjalanan mereka selama ini.

Sesampainya di rumah, si pemulung mengamplas pengaduk besi yang ia temukan tadi sehingga mengkilap kemudian melumurinya dengan minyak dan meletakkannya di tempat perkakasnya. Sedangkan bongkahan garam dapur yang ia temukan ia bersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel padanya kemudian mencucinya sebentar dan meletakkannya di tempat bumbu dapur.

Pengaduk besi dan garam dapur sangat bersedih hati. Mereka yang sudah akrab merasa dipisahkan oleh si pemulung. Mereka menganggap si pemulung kejam karena telah memisahkan mereka. Dan mereka pun sepakat akan protes kepada si pemulung.

Akhirnya si pemulung mendengar protes kedua benda tersebut. Besi berkata “Tuanku, mengapa engkau memisahkan aku dari garam dapur. Ia sahabat sejatiku.” Garam dapur pun protes serupa : “Tidakkah sangat kejam tuan. Aku menyayangi pengaduk besi sahabatku. Mengapa engkau memisahkan kami ?”

Si pemulung menjawab mereka : “Hei pengaduk besi dan garam dapur. Tidak tahukah kalian bahwa jika kalian bersatu terlalu lama akan merusakkan satu sama lain. Tidak tahukah kalian bahwa garam dapur akan larut oleh uap air dan membentuk air garam. Air garam dapat bereaksi dengan besi dan menimbulkan karat kemudian karat itu akan mengotori kalian semuanya. Aku akan menyatukan kalian lagi saat aku memasak, kemudian aku akan membersihkan kalian lagi.”

Renungan:
Kisah garam dapur dan pengaduk besi ini adalah kisah perumpamaan tentang kehidupan kita sehari-hari. Mungkin kita merasa Tuhan sangat kejam kepada kita karena permohonan kita dalam doa tidak terkabul atau mungkin kita ditinggalkan oleh seorang yang kita kasihi. Tetapi ingatlah teman-teman bahwa pikiran kita sangat terbatas. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi jika permohonan kita dikabulkan Tuhan. Hanya Tuhan yang mengetahui hal yang terbaik bagi kita.

Pengusaha Yang Gagal

0 komentar
TwitThis
Seorang salesman yang masih muda dan belum bermakan garam di bidang usaha merasa amat berputus asa setelah usahanya mengalami kegagalan total. Ia sudah berjuang penuh antusias sebagaimana layaknya seorang muda yang masih penuh semangat. Namun usahanya yang pertama kini harus berakhir dengan kepahitan.

Suatu hari ia datang menghadap managernya dan menceritakan kepedihannya. Ia katakan bahwa ia sudah berusaha keras, namun kegagalanlah yang harus ia telan. Di sela-sela percakapannya, ia bergumam seakan kepada dirinya sendiri; “Pengalaman ini seakan membuktikan bahwa kita hanya bisa menggiring seekor kuda menuju sebuah anak sungai, namun kita tak dapat memaksanya minum air sungai tersebut.”

Mendengar kata-kata itu, sang manager berkata; “Anakku, dengarkan kata-kataku: Tugasmu bukanlah memaksa kuda itu untuk minum. Tugasmu adalah membuatnya merasa haus. Dalam dunia usaha, tugasmu bukanlah memaksa konsumer membeli barang daganganmu, tetapi membuat mereka merasa butuh akan barang yang sedang kau jual.”Anak muda itu mengangguk pertanda bahwa ia kini paham.

Aku berpikir, prinsip yang dikembangkan sang manager ini mungkin bisa juga dipakai dalam dunia evangelisasi. Kita pengikut Kristus tidak harus memaksa orang-orang untuk bertobat. Tetapi bahwa hidup kita harus senantiasa dipenuhi oleh Kristus; berpikir dengan pikiran Kristus, berbicara dengan kata-kataNya dan bertindak sebagaimana Ia bertindak penuh kasih, sehingga dengan demikian orang lain setelah berpapasan dengan kita akan merasa butuh untuk menerima Kristus dalam hidupnya. Tugas kita adalah membuat mereka merasa haus akan hal-hal batiniah. "Selamat berdagang!!"

Silahkan Tnggalkan Komentar Anda

 

Tentang saya

Easy Blog Trick

Twitter Blog Templates © Copyright by Catatan Bang Goeltom | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks